Event Pelatihan

D3 RMIK UDINUS bekerjasama dengan DPD PORMIKI Jateng
menyelenggarakan

“PELATIHAN KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TINDAKAN MENGGUNAKAN ICD-10 dan ICD-9 CM, serta KLASIFIKASI PENYEBAB KEMATIAN DALAM MENINGKATKAN MUTU MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN”

Tempat : Hotel Siliwangi Jl. MGR.Soegiyopranoto No.61 Semarang
Tanggal : 27 – 29 Oktober 2011
Pembicara:
- dr. Mayang Anggraini Naga (Ahli Koding)
- dr.Lily Kresnowati,M.Kes (Ahli Koding)
- dr. Rano Indradi S,M.Kes (Konsultan MIK)
- Ahmad Danuri,Amd.PK,SKM (Praktisi RSUP dr.Kariadi SMG)

Brosur Lengkap klik di
http://dl.dropbox.com/u/21012371/brosur%20belakang.jpg
http://dl.dropbox.com/u/21012371/brosur%20depan.jpg

Maju terus Perekam Medis Indonesia

New Jersey 2011

“Jenis Tanah” mana yang sesuai dengan kamu?

Pagi ini terasa sangat cerah dan indah sekali… Seperti biasa, sebelum melaksanakan kegiatan rutin di kantor, selalu diadakan sebuah apel pagi. Nah, kebetulan hari ini ada  jadwal kultum…

Sebuah kultum yang menarik dan singkat, tetapi memiliki makna yang bagus buat kita untuk intropeksi terhadap diri kita masing-masing. Isi kultum tersebut ga’ panjang lebar, isinya tentang bagaimana sikap kita dalam menerima sebuah ilmu di kehidupan sehari-hari.

Dalam hal ini, sikap kita dalam menerima ilmu diumpamakan sebagai ” tanah yang mendapatkan  air hujan”, yang terbagi menjadi 3 golongan, yaitu:

1. Tanah yang berpasir

Tanah yang berpasir mengandung arti jika seseorang mendapat sebuah ilmu, ilmu tersebut secara cepat dapat diserap… namun, secara cepat juga untuk hilang kembali tanpa bisa menjaga manfaat ilmu tadi untuk kepentingan lingkungan sekitarnya.. Hal ini sama seperti air hujan yang turun di tanah berpasir, walaupun air terserap oleh tanah berpasir, namun tanah tersebut tidak bisa menjaga kandungan air di dalamnya…

2. Tanah biasa/liat

Tanah biasa/liat mengandung arti jika seseorang mendapat sebuah ilmu, ilmu tersebut secara cepat dapat diserap  dan ilmu tersebut dapat disimpan serta digunakan untuk kepentingan daerah sekitarnya.. Hal ini sama seperti air hujan yang turun dan membasahi tanah biasa/liat, air tersebut akan terserap dan disimpan oleh tanah tersebut untuk kesuburan daerah sekitar.

3. Tanah berbatu/bebatuan

Tanah berbatu/bebatuan mengandung arti jika seseorang mendapat sebuah ilmu, ilmu tersebut sama sekali tidak bisa diserap dan digunakan oleh orang tersebut… Sama seperti air hujan yang mengenai sebuah batu, air tersebut tidak akan masuk terserap oleh batu, namun hanya dipantulkan saja…

Jadi, sudah masuk kategori tanah apakah anda??

Seminar Nasional Medical Record 2011 (SENADA 2011)

SEMINAR NASIONAL MEDICAL RECORD (SENADA) 2011 kali ini mengangkat Tema tentang  ”Pentingnya Uji Kompetensi Guna Meningkatkan Mutu Perekam Medis di Indonesia”. Tema yang sangat menarik  bagi kita, karena selama ini kita belum mengerti sejauh mana pentingnya Uji Kompetensi bagi perekam Medis.

Pendaftaran dibuka mulai tanggal 1 Mei 2011 – 31 Mei 2011

Pelaksanaannya :

Hari / Tanggal : Minggu, 05 Juni 2011

Tempat : University Club UGM Yogyakarta

Waktu : Pukul 07 – Selesai

Pembicara :

- Elise Garmelia, A.Md. Perkes, SKM (Ketua Umum DPP Pormiki Pusat)

- Kepala Dinas Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta

- Ibnu Mardiyoko, SKM, MM (Ketua DPD Pormiki D.I.Yogyakarta)

Materi :

- Peraturan Daerah Dinkes yang Mengatur tentang Uji Kompetensi Perekam Medis dan Menyampaikan Hasil Workshop

- Landasan Dasar Hukum sesuai Standar Nasional yang Mengatur tentang Uji Kompetensi

- Syarat-syarat, Materi Tes dan  Teknis di Lapangan untuk Pelaksanaan Uji Kompetensi di DIY yang Pertama Kali

Untuk info selengkapya dapat lihat brosur di bawah ini:

Brosur dapat dicopy, klik kanan pada gambar, lalu save image as….

Salam Perekam Medis_10

Memberi Nomor Halaman (Page Number) pada Laporan Tugas Akhir

Hmm… tak terasa sudah setengah tahun lebih q tidak menuntut ilmu di program studi D-III Rekam Medis UGM (udah lulus) hehehe… Namun, pengalaman tentang perjuangan membuat Tugas Akhir masih saja terngiang di benak pikiran. Susah, senang, sedih, gembira dapat dirasakan saat berjuang menghadapi Tugas Akhir… Rasa lapar dan kantuk pun seakan tak mengusik, dipikiran hanya ada satu saat itu,, “Kapan TA q kelar y???” Finally, Alhamdulillah q dapat melaluinya dengan lancar.. :-)

Sedikit pengalaman saja, waktu jaman membuat Tugas Akhir dulu, q sempat dipusingkan dengan bagaimana membuat nomor halaman dengan posisi nomor halaman yang berbeda letaknya (di awal Bab posisi di tengah, dan selanjutnya berada di kanan atas) ., dengan latihan dan kesabaran, akhirnya bisa juga membuat nomor halaman sesuai dengan yang diperintahkan oleh dosen pembimbing. Terkadang perintah penulisan nomor halaman  dari setiap dosen pembimbing itu berbeda-beda, ada yang letaknya ditengah bawah semua, ada yang di kanan atas kemudian bawah, dsb…. namun ada juga yang letak nomor halamannya diseragamkan menjadi 1 agar lebih mudah, misalnya di tengah bawah semua, atau di kanan atas semua

Ok deh, kali ini q ingin membagi pengalaman dalam membuat page number (nomor halaman) pada sebuah Tugas Akhir.. Untuk kali ini, pemberian nomor halaman yang akan q jelaskan yaitu bagaimana membuat nomor halaman dengan letak nomor halaman di kanan atas, kecuali pada setiap awal Bab dengan menggunakan Ms Office Word 2007.

Langkah-langkahnya adalah sbb:

  • Pertama, pastikan laporan TA sudah diketikan dan siap untuk diberi nomor halaman (gunakan Ms Office Word 2007)
  • Letakkan kursor pada Bab I, kemudian pilih insert -> page number -> top of page (pilih letak kanan atas)

  • nomor halaman akan terlihat di kanan atas laporan.

  • Letakkan kursor masih pada halaman Bab I, kemudian pilih different first page pada Design. Maka dengan otomatis halaman pertama (Bab I) akan hilang. Masih dengan kursor di Bab I, Setelah itu kita lanjutkan dengan memilih insert -> page number -> bottom of page (pilih letak tengah)

 

Untuk Bab II, III dst, dapat digunakan dengan cara yang sama.

Semoga berhasil…. semangat !!!

Nb: jika ada yang bingung bisa coment di bawah

 

Slide Presentasi Pendadaran

PENDADARAN??? Lagi dan lagi, setiap mahasiswa semester akhir ditanya “kapan kamu pendadaran?”, kayaknya seketika itu rasa cemas dan takut menghampiri kita. Ntah, perasaan apa yang ada sehingga kita merasa takut menghadapinya. Tapi ketahuilah, setelah pendadaran telah selesai dijalani, beban dipikiran kita seketika menjadi plong..plong..plong (dalam bahasa jawanya yaitu perasaan ayem)

Memang, terkadang kita melihat ada mahasiswa yang menjalani pendadaran dengan mudahnya, dan adapula yang dengan susah payah menjalaninya. Keberhasilan dalam ujian pendadaran ini tergantung dari usaha kita, antara lain: Berdoa kepada Alloh SWT dan meminta doa restu demi kelancaran ujian pendadaran (kepada Orang Tua, Teman, dsb), Kuasai isi dan materi yang ada dalam karya ilmiah anda, dan yang terakhir persiapkan mental kita dalam menjawab beberapa pertanyaan dari penguji. InsyaAlloh jika kita percaya diri dalam menghadapi semuanya kita akan dapat yang terbaik “All iz well”

Tapi, sebelum kita maju ujian pendadaran, kita diwajibkan untuk membuat slide presentasi guna mempermudah dalam penyampaian hasil karya ilmiah kita. Ok deh.. untuk kali ini temanya adalah poin apa saja yang ada di slide presentasi pendadaran???

Tips untuk membuat slide presentasi :

  • Slide presentasi sebaiknya dibuat semenarik mungkin, tapi masih dalam kondisi yang formal.
  • Usahakan animasi-animasi dalam slide dikurangi atau bahkan dihilangkan.
  • Perpaduan warna background dengan teks usahakan yang seimbang, jangan saling menutupi agar tulisan dalam presentasi masih dapat terbaca.
  • Jangan lupa, sisipkan nomor halaman pada slide presentasi. Kebanyakan dari kita lupa menyisipkan nomor halaman tsb
  • Jumlah slide jangan terlalu banyak, mengingat efisiensi dan efektivitas waktu

 

Untuk isi dalam slide presentasi sendiri, poin-poin yang dipresentasikan kurang lebih adalah sbb:

  1. Judul karya ilmiah kita (disertakan nama dan NIM kita)
  2. Latar Belakang à disini yang dimasukkan adalah latar belakang masalah
  3. Rumusan masalah
  4. Tujuan
  5. Landasan Teori
  6. Kerangka Konsep
  7. Hipotesis (kalau ada)
  8. Metodologi Penelitian
  9. Hasil
  10. Kesimpulan
  11. Saran
  12. Penutup

 

Semoga sharing ini bermanfaat, sukses buat kita semua… amin amin…

 

 

Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis Menurut “Nomor”

Hoahm…rasanya lama nian nie q ga’ update blog lagi….. Maklum (efek post sick), jadi belum ada ide-ide cemerlang buat update, hehehe

Ok deh,,,, semoga hari ini bisa meng-update sesuatu yang ada manfaatnya, khususnya buat q pribadi dan umumnya buat pembaca sekalian.. ^_^

Hmm,,,, karena latar belakang q adalah lulusan Rekam Medis, jadi untuk update-an hari ni temanya ga jauh-jauh dari rekam medis aja deh,,, hehe

Kali ini q pengin membahas tentang sebuah sub judul mengenai SPBRM. What is SPBRM??

Jangan bingung-bingung, SPBRM tu singkatan dari Sistem Penyimpanan Berkas Rekam Medis.. Biasa lah…, untuk mengingat dalam belajar, q lebih enak menggunakan istilah singkatan-singkatan sendiri yang mempermudah dalam menghafal. Hehe (Tapi ga setiap orang terbiasa dengan singkatan-singkatan lho…, gunakan aja tehnik belajar sesuai kebiasaanmu,, ^_^)

Setiap rumah sakit tentunya memiliki sistem penjajaran yang berbeda dalam menyimpan berkas rekam medis. Hal ini tergantung dari kebutuhan serta fasilitas rumah sakit itu sendiri. Adapun macam-macam sistem penyimpanan berkas rekam medis menurut nomor adalah sebagai berikut :

  • Sistem Penyimpanan Nomor Langsung (Straight Numerical Filing System)

Penyimpanan dengan sistem penyimpanan nomor langsung yaitu berkas rekam medis disimpan dalam rak penyimpanan secara berturut dengan penjajaran berdasar urutan nomornya seperti yang tertera pada berkas rekam medis, yang dimulai dengan nomor terkecil sampai yang terbesar.

Contoh :

Ada 3 buah berkas rekam medis dengan nomor rekam medis 6 digit seperti berikut: 356011, 356010, 356012

Maka dalam penyimpanannya, penjajaran/urutannya adalah 356010, 356011, 356012

  • Sistem Penyimpanan Angka Akhir (Terminal Digit Filing System)

Penyimpanan dengan sistem ini sering disebut dengan Terminal Digit Filing System, dimana penjajaran dalam menyimpan berkas rekam medis berbeda dengan penomoran langsung. Dalam sistem ini nomor rekam medis dibagi menjadi 3 bagian, yaitu primary digits, secondary digits dan tertiary digits. Biar ga bingung, saya kasih contohnya. Misalkan RS-X memiliki 6 digit nomor rekam medis, yaitu 35-60-10. Maka angka “10” menempati posisi primary digits, sedangkan dua angka di sebelah kirinya, yaitu angka “60” menempati posisi secondary digits, dan yang terakhir “35” menempati posisi tertiary digits. Urutan proses untuk melakukan penyimpanan terhadap berkas rekam medis sesuai sistem ini, yaitu melihat posisi dengan urutan primary digits -> secondary digits -> tertiary digits.

  • Sistem Penyimpanan Angka Tengah (Middle Digit Filing System)

Disini, penyimpanan berkas rekam medis yang menggunakan sistem penjajaran angka tengah hampir sama dengan sistem penjajaran angka akhir. Yang membedakan adalah letak posisi primary digits, secondary digits dan tertiary digits. Dalam hal ini, pasangan angka yang terletak di tengah-tengah menempati posisi primary digits, untuk pasangan angka paling kiri menempati posisi secondary digits, dan pasangan angka yang paling kanan menempati posisi tertiary digits.

Budidaya Ikan Hias Cupang (Betta Splendens)

Bagi anda yang ingin memiliki sedikit kegiatan yang bisa menambah sedikit penghasilan, tidak ada salahnya untuk mencoba membudidayakan ikan hias jenis Ikan Cupang (Betta Splendens).  Ikan yang banyak digemari oleh penggemar ikan hias karena keindahan warna dan siripnya, kini menjadi buruan para pencinta ikan hias. Harga yang ditawarkan pada umumnya berkisar Rp 5000 – Rp 10.000 per ikan. Namun, jangan salah…. ada pula ikan cupang jenis ini yang dihargai hingga jutaan karena keindahan serta ketangguhannya (hasil wawancara dengan penjual ikan).

Ikan jenis cupang ini terdiri dari beberapa macam, antara lain Ikan Cupang Petarung, Ikan Cupang Halfmoon, Ikan Cupang Cendrawasih, Ikan Cupang Serit, dsb.

Untuk saat ini, semua jenis ikan cupang tersebut sudah saya pelihara dan mencoba untuk dibudidayakan. Budidayakan ikan ini sangatlah sederhana dan mudah, tidak membutuhkan biaya yang mahal.

Alhamdulillah untuk jenis Ikan Cupang Serit yang saya pelihara, saya berhasil mengawinkannya dan membudidayakannya. Dalam sekali menetas, ada sekitar 30-40 an anakan cupang. Anda tertarik??? Tidak ada salahnya untuk mencoba… d^-^b (tapi tidak dapat dipungkiri apabila ada anakan yang mati. Hal ini disebabkan karena kualitas air dan faktor ekternal lain)

Bagi Anda yang ingin membudidayakannya, saya mencoba untuk memberikan tips.

- Pertama, pilihlah induk yang berkualitas, sehat dan sudah siap untuk membuahi. Untuk induk Jantan, Anda dapat melihat dari keagrasifannya berenang dalam air.  Induk jantan yang sudah siap untuk membuahi telur apabila ikan jantan tersebut sering mengeluarkan buih-buih.

Untuk induk betina, Anda dapat memilih induk betina yang sehat dan gemuk. Pilihlah induk betina yang seimbang dengan pejantan. Maksudnya jangan memilih induk betina yang lebih besar dari induk jantan, karena bisa saja induk jantan kalah (Hahaha, kaya suami takut istri gitu ^_^)

- Setelah anda memilih induk, siapkan tempat untuk pengawinannya. Tidak usah repot-repot, gunakanlah ember atau aquarium kecil 30 x 20 cm atau yang lebih besar sedikit.

- Berikan tumbuhan eceng gondok atau serutan dari steroform untuk melindungi telur-telur saat mengumpul dalam buih.

- Pisahkan induk betina dari pejantan apabila telur sudah terdapat dalam buih. Ciri-ciri telur sudah ada dalam buih, Anda dapat mengetahui dengan melihat buih tersebut. Apabila ada bintik-bintik berwarna putih, berarti telur sudah menempel. Atau Anda dapat melihat dengan perilaku si betina. Biasanya setelah bertelur, ikan betina akan menjauh dari si jantan dengan bersembungi disudut aquarium/ember.

- Setelah itu, tunggu sekitar 3-4 hari telur akan menetas.

 

Selamat Mencoba !!!

 

***Ikan ini berbeda dengan ikan hias lain. Perbedaannya yaitu pada keindahan sirip dan warnanya. Ikan ini akan menyajikan pemandangan yang menawan dan indah saat sirip-sirip berwarnanya dimekarkan dengan sempurna. Mungkin , inilah ikan hias yang paling menawan untuk saat ini bagi saya pribadi. ^_^***

 

 

 

Pengkodean Neoplasma

Hmm,,,,,,, rasanya sudah lama banget saya tidak merasakan perkuliahan lagi di Diploma III Rekam Medis Universitas Gadjah Mada (yang kini berubah menjadi Sekolah Vokasi) semenjak saya dinyatakan Lulus. Masih terlintas beberapa materi dalam benakku yang rasanya kurang sempurna kalo tidak dituangkan dalam sebuah tulisan (dalam hal ini di Blog ) ^_^

Sedikit cerita saja, materi yang paling saya sukai pada saat kuliah dulu adalah IPLK (Ilmu Penyakit dan Laboratorium Kesehatan). Ntah kenapa, kalo mempelajari IPLK itu rasanya seneng banget, apalagi saat masuk bagian Coding atau pengkodean penyakit…. Wah, banyak wawasan yang dapat diambil dari sana. Mulai dari mengenal jenis dan macam penyakit, serta letak penyakit tersebut. Pokoknya Oke banget dah materinya…. ^_^

Langsung aja, tulisan saya kali ini akan membahas tentang Bagaimana sih  melakukan pengkodean terhadap penyakit Neoplasma????

Eits…. Sebelum melakukan pengkodean penyakit, pastinya kita mempersiapkan peralatannya dulu donk.. Yupz, jelas banget!!! Peralatan yang wajib ada yaitu ICD-10 volume 1 dan 3, tapi volume 2 tetap dibawa ya… jangan dipisahkan, karena prosedur-prosedur pemakaian ICD-10 sudah dijabarkan di volume 2. ^_* Saya menganjurkan untuk memakai ketinganya, karena pemakaian ICD yang akurat dan konsisten tergantung pada penggunaan ketiga volumenya secara benar.b^_^d

Secara garis besar pengkodean penyakit tu sama, baik penyakit yang biasa maupun penyakit neoplasma, yaitu:

1. Tentukan tipe pernyataan yang akan dikode, dan buka volume 3 Alphabetical index (kamus). Bila  pernyataan berkaitan dengan       istilah

2. penyakit atau cedera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I-XIX dan XXI (Vol. 1), gunakanlah ia sebagai “lead term” untuk dimanfaatkan sebagai panduan menelusuri istilah yang dicari pada seksi I indeks (volume 3). Bila pernyataan berkaitan dengan penyebab luar (external cause) dari cedera (bukan nama penyakit) yang ada di bab XX (Vol. 1), lihat dan cari kodenya pada seksi II di indeks (Vol. 3).

3. “Lead term” (kata panduan) untuk penyakit dan cedera biasanya merupakan kata benda yang memaparkan kondisi patologinya. Sebaiknya jangan menggunakan istilah kata benda anatomi, kata sifat atau kata keterangan sebagai panduan. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang diekspresikan sebagai kata sifat atau eponim (menggunakan nama penemunya) sebagai “lead term”.

4. Baca dan ikuti petunjuk catatan yang muncul di bawah istilah yang akan dipilih pada volume 3.

5. Baca istilah yang terdapat dalam tanda kurung “( )” sesudah lead term (kata dalam kurung tidak akan mempengaruhi kode), demikian juga setiap istilah yang ada pada baris indentasi di bawah lead term, sampai semua kata dalam diagnosis dicakup.

6. Ikuti secara hati-hati setiap rujukan silang (cross references) dan perintah see dan see also yang terdapat dalam indeks.

7. Rujuk ke Tabular List (volume 1) untuk verifikasi ketepatan nomor kode yang dipilih. Perhatikan juga perintah untuk membubuhi kode tambahan (additional code) serta aturan cara penulisan dan pemanfaatannya dalam pengembangan indeks penyakit dan dalam sistem pelaporan morbiditas dan mortalitas.

8. Ikuti pedoman/petunjuk istilah inklusi (Inclusion) dan eksklusi (Exclusion) di bawah kode yang dipilih atau di bawah bab (chapter), blok, kategori, atau subkategori.

9. Tentukan kode yang dipilih.

Tetapi ada sedikit cara untuk mempermudah untuk mencari kode pada penyakit neoplasma tersebut. Cara tersebut yaitu kita harus mengetahui sistematika dari penyakit neoplasma itu sendiri. Salah satunya yaitu kita bisa mempelajari sifat dari neoplasma itu sendiri. Berdasarkan sifatnya, neoplasma terdiri dari 4 sifat, yaitu Ganas (C00-C97), ‘In Situ’ (D00-D09), Jinak (D10-D36) serta tidak diketahui (D37-D48).

Untuk neoplasma yang bersifat ganas biasanya memiliki sifat invasif, ciri-cirinya yaitu:

  • Menyerang jaringan sekitar
  • Bermetastasis ke tempat yang jauh
  • Berpotensi mengancam nyawa

Untuk neoplasma ‘In Situ’ ciri-cirinya:

  • Sedang menjadi ganas, masih di titik asal
  • Pra-invasif, non-invasif, non-infiltratif

Untuk neoplasma jinak, ciri-cirinya :

  • Pada satu tempat, tidak menyerang sekitar
  • Biasanya memiliki kapsul dan pinggir tegas
  • Biasanya tidak mengancam nyawa
  • Masalah: kalau menekan organ lain

Untuk neoplasma tidak diketahui/tidak pasti, ciri-cirinya:

  • Tidak ganas, tapi pernah menjadi ganas
  • Jarang: pengkodean setelah MR dipelajari

(sumber : Materi Kuliah+Erkadius FK Unand)

Tips Lulus Ujian Pendadaran

Ujian pendadaran terkadang dirasa berat oleh mahasiswa semester akhir, karena dalam ujian ini mereka (mahasiswa.red) diwajibkan untuk mempresentasikan dan bertanggung jawab atas karya ilmiah yang telah mereka buat untuk diujikan di depan penguji. Sebenarnya dalam ujian pendadaran, modal yang kita butuhkan adalah rasa percaya diri dan menguasai isi dari karya ilmiah yang kita buat tadi. Tentulah kita menguasai isi dari karya ilmiah kita apabila kita sendiri yang membuat karya ilmiah itu. Pastinya ada perbedaan dengan orang lain yang karya ilmiahnya di alih tanggung jawab alias dibuatkan sepenuhnya oleh orang lain. Nah, untuk memberikan gambaran dalam ujian pendadaran, disini saya memiliki tips dalam menghadapi ujian pendadaran… penasaran?????? langsung aja deh…

Tips Lulus Ujian Pendadaran

  • Pertama, pastikan anda meminta restu dan doa orang tua sebelum melaksanakan ujian pendadaran. Karena restu dan doa orang tua kita sangat mujarab…. (menurut saya)
  • Persiapkan dan cek semua peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam ujian pendadaran, seperti slide presentasi, buku acuan, laptop, dsb
  • Pelajari dan kuasai karya ilmiah anda, serta kenali lebih dekat dosen penguji anda (anda dapat menanyakan hal ini kepada kakak angkatan yang sebelumnya telah menjalani ujian pendadaran)
  • Kuasai METODOLOGI PENELITIAN yang anda pakai dalam penelitian.
  • Nah, yang terakhir ini mungkin dapat membantu. Pelajari pertanyaan yang biasanya “sering” ditanyakan dalam ujian, seperti :
  1. Jelaskan secara ringkas penelitian saudara! (” cttn : jelaskan dengan ringkas, jangan panjang lebar”)
  2. Jelaskan latar belakang permasalahan dalam penelitian saudara?
  3. Sebutkan populasi dan sampel saudara atau objek dan subjek saudara?
  4. Bagaimana saudara menentukan sampel penelitian?? dengan teknik apa?
  5. Jelaskan jalannya penelitian saudara!

Nah, mungkin kurang lebihnya seperti itu.. untuk pertanyaan selanjutnya berkaitan dengan permasalahan yang anda teliti. Sekali lagi, persiapkan dengan matang jika anda ingin mengajukan untuk Ujian Presentasi, berusahalah dengan sungguh-sungguh dan percayalah dengan kemampuan kita sendiri bahwa kita bisa meraih yang terbaik…..

Ok Ok….

« Entri lama Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.